Selasa, 31 Maret 2009

Rakyat Mati di Lumbung Padi

BEKASI - Bosan (62), penjaga makam, adalah satu dari 500.000 lebih warga miskin di Kabupaten Bekasi. Ayah tiga anak ini sehari-hari hanya membersihkan makam di Kampung Tanjung Air, Kramat Pulo Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan. Ia tinggal di gubuk reot di atas tanggul saluran air tanah garapan. Selain membersihkan kuburan, dia juga menjual atap dari alang-alang dan rumbia.Atap itu dijual satu lembar hanya Rp 2.500. Itu pun kalau ada yang membeli. Namun, tidak setiap hari ada orang yang membeli atap buatannya. Kehidupan Bosan kini semakin sulit. Makan satu hari, hanya dua kali dan sering tak pakai lauk. Sayur kangkung yang merambah di saluran air, termasuk salah satu makanan pokoknya yang hanya direbus pakai garam saja.Beruntung, Bosan memiliki kartu keluarga miskin (gakin) sehingga tiap bulan ia mendapat jatah beras miskin (raskin). Itu pun dengan susah payah harus ia beli Rp 2.000 per kilogram. Terkadang, ia harus menangkap ikan yang ada di saluran air untuk lauk pauk. Tetapi, tidak setiap saat ada ikan di saluran air itu, dan keluarga ini pun sering makan hanya pakai garam dan kerupuk, lengkap dengan kangkung yang dipetik dari saluran air dekat gubuknya. Ternyata, tidak hanya Bosan yang hidupnya miskin. Keluarga Supendi, warga Kampung Panombo Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong, termasuk keluarga miskin dari dua juta lebih penduduk daerah ini. Rumahnya hanya terbuat dari gubuk berdinding bambu yang dianyam dan atapnya dari asbes dan genteng bekas. Pekerjaannya pun tidak ada yang menetap. Ia hanya seorang buruh tani dan anggota pertahanan sipil (hansip) yang tidak ada gajinya.Dalam ekonomi sulit seperti sekarang ini, di Kecamatan Tarumajaya, sempat ada keluarga yang makan genjer dan nasi aking. Nasi aking yang merupakan nasi bekas yang biasanya buat makanan itik peliharaan, terpaksa dimakan warga karena tidak memiliki beras. Bahkan, di Cikarang, sempat tersiar kabar ada warga yang harus makan bekas katering akibat kesulitan hidup. Inilah gambaran segelintir masyarakat miskin di Kabupaten Bekasi yang jumlahnya tercatat 111.527 keluarga atau 500.000 jiwa lebih. Masih banyak rakyat miskin di wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki lima kawasan industri terbesar se-ASEAN dan dapat menyumbang penghasilan pajak kepada pemerintah pusat Rp 34 triliun ini.Anehnya, di Kecamatan Babelan kini terdapat beberapa sumur minyak yang dikelola Pertamina. Tetapi, di antara ladang minyak itu, kehidupan warganya sangat memprihatinkan karena miskin. Penduduk miskin juga terdapat di sekitar kawasan industri, Jababeka, Lippo Cikarang, MM 2100, EJIP, Hyundai, Delta Silocon dan sejumlah kawasan industri lainnya. Penuhi JanjiNamun, di balik kemiskinan yang melanda setengah juta jiwa rakyat Kabupaten Bekasi, kompleks perkantoran Pemkab Bekasi, salah satu perkantoran pemerintah termegah di Indonesia yang dibangun di atas tanah 40 hektare dengan nilai bangunan triliunan rupiah. Tetapi, di tengah kemegahan perkantoran itu pula, terdapat rakyat yang hidupnya sengsara hanya untuk makan sehari-hari saja, sangat sulit. Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana mengaku prihatin melihat rakyatnya yang miskin setengah juta lebih itu. Ia pun mengakui tidak punya konsep dalam mengentaskan kemiskinan walau berusaha mengalokasikan dana dalam APBD Rp 47 miliar. Kini ia sudah menjabat satu tahun, juga belum tampak perubahan khususnya bagi masyarakat miskin.Padahal, saat Darip dan Sa’duddin berkampanye menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bekasi setahun lalu, keduanya dalam visinya berjanji mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Nyatanya, sudah satu tahun menjabat, belum ada langkah nyata dalam mengentaskan kemiskinan yang melanda daerah pinggiran Ibu Kota Jakarta ini.Data yang diperoleh SH, di 23 kecamatan se-Kabupaten Bekasi, pasti ada rakyat yang miskin. Terbanyak rakyat miskinnya, Kecamatan Babelan sejumlah 11.491 keluarga atau 7,81 persen dari jumlah penduduknya 147.139 jiwa. Hal itu dibenarkan Kepala Seksi Ekonomi Masyarakat Kecamatan Babelan, H Djahroni. Kemudian disusul Kecamatan Pebayuran 9.320 keluarga atau 10,15 persen dari jumlah penduduknya 9.320, Kecamatan Tambun Selatan 8.330 keluarga atau 2,44 persen dari jumlah penduduk 341.175 jiwa. Kecamatan Tambun Utara memiliki rakyat miskin 6.662 keluarga atau 7,48 persen dari jumlah penduduk 89.017 jiwa, Kecamatan Kedungwaringin rakyat miskinnya 6.638 keluarga atau 12,88 persen dari jumlah penduduk 51.551 jiwa. Termasuk Kecamatan Cabangbungin dari 48.404 jiwa penduduknya yang miskin 4.401 jiwa, Kecamatan Tarumajaya yang miskin 6.030 keluarga dari jumlah penduduk 82.363 jiwa.

Sumber: Sinar Harapan

Sumur Minyak Babelan Menelan Korban, Amdalnya Baru Dibahas

Pagi itu tak lagi dingin. Mentari sudah beranjak naik, tapi kehangatan sinarnyatak bisa membangunkan perkampungan yang ditinggalkan penghuninya itu. Kamis duapekan lalu, di pekarangan, di sudut-sudut kampung, bangkai ayam dan kambingmasih berserakan. Perkampungan di Desa Buni Bakti, Babelan, pun tersaput senyapyang mencekam.Biang semua itu adalah kebocoran satu dari enam belas sumur minyak milikPertamina, 20 kilometer dari Bekasi atau 40 kilometer dari jantung Jakarta.Selasa pagi, 16 Maret lalu, warga yang mengawali kegiatan rutinnya terkejut olehledakan yang terdengar hingga radius seribu meter. Kepanikan makin merebakketika bau gas menyebar menusuk hidung. "Dada kami sesak. Mata perih. Kamiberlarian mencariperlindungan," kata Yamin, warga yang rumahnya hanya beberapa puluh meter darisumber ledakan.Siang itu pula ribuan warga dari dua desa terdekat, Desa Buni dan Hurip Jaya,mengungsi. Mereka membanjiri gedung sekolah, kantor desa, dan madrasah dikampung yang tak terjangkau gas. Menurut data Departemen Kesehatan, 204 wargadirawat di pusat kesehatan masyarakat terdekat. Mereka mengeluh sulit bernapasatau merasa lemas. Dua orang di antaranya malah harus dirawat di Rumah SakitUmum Daerah Bekasi.Bambang Busono, Manajer Umum Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat,membenarkan adanya semburan liar (blow-out) gas tanpa api di sumur minyak PondokTengah 01. Kebocoran terjadi pada silang sembur (X-three) di bagian kepalasumur. Menurut Bambang, pipa kepala sumur tak bisa menahan desakan gas perutbumi yang jauh melebihi daya tahannya.Untuk menghentikan kebocoran, tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja WilayahCirebon diturunkan. Mereka mencoba memasang tudung penutup (capping) pada kepalasumur. Mencegah terjadinya kebakaran, petugas pun menyemprot sumur dengan airdari berbagai arah. Minyak yang telanjur tumpah kemudian dialirkan ke kolampenampungan. Seminggu kemudian, semburan gas setinggi 20 meter itu baru bisajinak. Tapi sempat terjadi kebakaran ketika petugas memasang pipa penutupsemburan (blow-out preventer). Diduga, kebakaran dipicu percikan api akibatgesekan logam.Semburan dan kebakaran akhirnya memang teratasi. Tapi masalah tak langsungpergi. Embun minyak dan gas yang telanjur muncrat ke udara terlalu bebal untukbisa dibersihkan begitu saja. Maklum, berat jenis gas dan minyak lebih tinggiketimbang udara. Saat udara mendingin, misalnya pagi hari, gas dan embun minyakturun ke permukaan bumi. Selain menempel di tumbuhan, gas dan minyak itu terisaphewanatau manusia.Empat hari setelah ledakan, ketika gas masih menyembur, pihak Pertamina menjamingas dari sumur Pondok Tengah 01 aman bagi lingkungan dan manusia. Mereka merujukhasil penelitian tim dari Elnusa yang, menurut juru bicara Pertamina, SriKustini, tak menemukan zat berbahaya. Tapi siapa mau percaya begitu saja?Banyaknya penderita masalah pernapasan serta matinya ratusan ternak tetapmencemaskan warga. Lagi pula, sampai saat itu, bau gas masih tercium hinggaradius satu kilometer.Bahkan jajaran Departemen Kesehatan punya kekhawatiran senada. Departemen inikemudian menurunkan tim dari Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Jakarta.Tujuh anggota tim itu ditugasi meneliti sampel air, tanah, dan udara di sekitarlokasi kejadian. Target utamanya memastikan ada atau tidaknya zat berbahaya.Setelah lima hari bekerja, tim Departemen Kesehatan menghasilkan kesimpulanbernada peringatan."Kami tak berani menyatakan udara di sana aman," kata Maaruf, Kepala BTKLJakarta, yang sekaligus memimpin tim Departemen Kesehatan. Pada tahap awal,menurut Maaruf, pengujian laboratorium memang tak menemukan kandungan zatpencemar tanah, air, dan udara yang melampaui ambang batas. Kandungan nitrogendioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan amonia padaudara di permukiman warga, misalnya, masih pada batas aman.Cuma, kenyataan di lapangan membuat tim peneliti tetap penasaran. "Banyak orangsakit. Banyak hewan mati. Kami menghadapi pertanyaan besar," ujar Maaruf.Penelitian pun dilanjutkan dengan melibatkan parameter yang lebih banyak danpengujian laboratorium yang lebih cermat. Hasilnya, di sekitar sumur bocorditemukan jenis-jenis gas beracun, antara lain styrene, xylene, toluen, benzene,dan n-hexane."Secara kualitatif kita menemukan gas-gas beracun. Kuantitasnya masih kitateliti," kata Maaruf.Gas beracun ini, menurut Maaruf, bisa menyerang organ tubuh dengan gejala hampirserupa. Organ paling rentan antara lain mata, kulit, pernapasan, sistem sarafpusat, hati, ginjal, dan alat reproduksi. Gejalanya bisa iritasi pada mata,hidung, atau tenggorokan. Gejala lainnya rasa mual, pusing, sakit kepala, sakitperut, atau kecapekan. Dari temuan inilah, tim Depertemen Kesehatanmerekomendasikan agar lahan di sekeliling sumur minyak dibebaskan daripermukiman warga. "Paling tidak, untuk radius seribu meter, jangan adaperumahan," ujar Maaruf.Toh, Pertamina tetap yakin kawasan itu aman. Unsur-unsur yang ditemukan timDepartemen Kesehatan, kata Bambang Busono, sangat rendah kadarnya dan segeranetral saat bercampur dengan udara. "Bahwa warga sekitar sumur pernahdiungsikan, itu bukan karena ada gas beracun. Itu untuk mencegah kebakaran,"ujarnya.Benarkah aman? Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta menilai, tanpakebocoran pun, sumur-sumur minyak di Babelan tetap sumber pencemaran. Bocornyasumur minyak Pondok Tengah 01, menurut Walhi, hanya penegasan atas proseseksploitasi alam yang mengabaikan keselamatan lingkungan.Direktur Walhi Jakarta, Slamet Daroyni, mengungkapkan sejumlah fakta. SaatPertamina melakukan uji seismik untuk memastikan kandungan minyak, lingkungandan warga Babelan sudah terganggu. Peledakan dinamit berkekuatan besar,misalnya, telah membuat rumah warga retak-retak.Saat sumur bocor, kata Slamet, pencemaran lingkungan bisa dilihat dengan matatelanjang. Gas bercampur minyak yang turun lagi ke permukaan tanah telahmencemari lahan pertanian warga.Akibatnya, belasan hektare padi warga musnah. "Daun dan buah padi yangterbungkus minyak menguning sebelum waktunya. Apa itu bukan pencemaran?" katadia gemas.Yang makin membuat runyam masalah, menurut Slamet, sumur-sumur minyak Pertaminadibangun terlalu dekat dengan permukiman. Padahal, untuk kegiatan serupa, jarakminimal dengan rumah warga tak boleh kurang dari dua kilometer. "Temuan kami dilapangan, ada rumah warga yang jaraknya hanya 20 meter," tutur Slamet.Dari sinilah Walhi Jakarta mencium adanya ketidakberesan dalam proses perizinan.Mereka mencurigai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal)sumur-sumur minyak itu. "Kami curiga tak ada amdalnya." Kalaupun dokumenamdalnya ada, menurut Slamet, warga masih berhak mempersoalkan materinya.Pasalnya, selama ini, warga tak pernah diberi penjelasan lengkap tentang segalarisiko akibat proyek eksplorasi itu.Kecurigaan Slamet tak berlebihan. Setidaknya untuk sumur minyak yang bocor itu.Kepala Seksi Teknis Amdal Kabupaten Bekasi, Dian Kusmayadi, mengungkapkan bahwaproyek Pondok Tengah 01 memang belum memiliki amdal. Pada 2003, Pertamina barumengajukan kerangka acuan amdal. Tapi dokumen awal itu baru dibahas KementerianLingkungan Hidup pekan ini. "Harusnya ada amdal dulu, baru ada kegiatan," ujarDian.Pihak Pertamina sendiri mengakui pembahasan amdal sumur Pondok Tengah 01 barudilakukan pekan ini.Namun Pertamina membantah telah melanggar prosedur. Menurut Bambang, kegiataneksplorasi dan pembahasan amdal bisa jalan berbarengan. Alasannya, rencanapenanggulangan lingkungan dalam dokumen amdal harus menyeluruh, dari tahapperencanaan hingga tahap eksploitasi. "Nah, sumur Pondok Tengah 01 itu masihtahap eksplorasi, belum tentu berlanjut ke eksploitasi."Mestikah amdal menunggu dulu jatuhnya korban?Jajang Jamaludin, Siswanto, Retno Sulistyowati (TNR)

Kebocoran Gas di Babelan, 99 Orang Keracunan

Kelalaian dalam uji produksi di lokasi pengeboran minyak dan gas Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat (DOH JBB) Pondok Tengah, Kampung Buni Baru, Desa Buni Bhakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jabar; Selasa (16/3) mengakibatkan 99 warga keracunan gas dan ribuan warga terpaksa mengungsi.
Sebanyak 67 kepala keluarga (KK) atau 247 jiwa warga Buni Bhakti dan 97 KK warga Kedung Jaya langsung dievakuasi oleh Pemkab Bekasi. "Kemarin kita langsung memberikan pertolongan pertama kepada korban," kata Sekretaris Daerah, Drs Herry Koesaery MSi, kepada Pelita, Rabu (17/3).
Herry mengatakan Puskesmas dan tenaga medis langsung turun tangan. Karena di sana tidak boleh ada dapur umum, maka Pemkab Bekasi membantu memberi nasi bungkus untuk pengungsi. "Tetapi sekarang telah ditangani oleh Pertamina. Yang kita lakukan memberikan pertolongan pertama," ujarnya.
Sementara, Wakil Ketua DPR RI AM Fatwa langsung mengecek ke lokasi untuk mengetahui sejauhmana tingkat kebocoran dan langkah apa yang telah dilakukan oleh pihak Pertamina.
"Ya, saya sebagai wakil rakyat mau mengecek langsung bagaimana penanganan Pertamina," kata AM Fatwa kepada Pelita, kemarin, saat melihat langsung lokasi eksplorasi minyak Babelan dan para korban yang mengungsi.
Hingga kemarin siang warga sekitar pengeboran minyak masih terus berdatangan ke berbagai lokasi. Sekitar 1.800 warga dari Desa Hurip Jaya, Kampung Buni Baru, Kampung Cabang Empat, dan Kampung Singkil mengungsi ke berbagai lokasi seperti kantor kepala desa, masjid, dan Puskesmas.
Diperoleh keterangan, akibat kebocoran itu, sejumlah warga masih dirawat di RSUD Bekasi, di antaranya Salimah, 15, dan Jaliyah, 20, keduanya Kampung Setia Makmur, Desa Hurip Jaya. Ada juga warga yang dirawat di klinik-klinik dan Puskesmas di Babelan, di antaranya Ani, 15, Nur Kholifah, 17, Minah, 50, dan Ika, 20.
Keenam korban itu mengalami kepala pening, sesak nafas, mual dan muntah-muntah. Sementara, 134 warga yang sempat dirawat di Puskesmas Engkar Dini, Desa Hurip Jaya, Puskesmas Bidan Cicih, Desa Buni Bhakti dan Rumah Sakit Belendung, Desa Sasak Canal Bekasi Laut, karena menderita mata pedih dan sesak nafas. Sebagian korban sudah boleh pulang.
Kejadian itu merupakan tanggung jawab Pertamina. Selain harus memperbaiki kebocoran, Pertamina juga harus membiayai biaya perawatan para korban dan menyediakan nasi bungkus untuk para pengungsi. "Kami akan membantu apa yang bisa dibantu, termasuk memberikan bantuan Rp15.000 per jiwa," kata Manajer Umum DOH JBB Pertamina Bambang Busono.
Masalah teknis
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ariffi Nawawi mengatakan bahwa pada kebocoran pipa tidak ada faktor keteledoran. "Itu masalah teknis yang bisa terjadi," katanya.
Kebocoran terjadi pada saat sumur PDT-01, sudah ditutup 3-4 bulan karena akan dieksplorasi. Ketika persiapan uji produksi dilakukan dan penutup dibuka, secara tiba-tiba gas yang ada di dalam sumur menyembur keluar.
Semburan gas, itu memicu gas yang ada di bawahnya keluar juga. Akibatnya, minyak meluap keluar dari kepala sumur.
Akan tetapi, tumpahan minyak, menurut dia, masuk ke dalam balong-balong di sekitar sumur yang sebenarnya berfungsi menampung limbah hasil pengeboran. Gas yang keluar dari sumur itu tidak beracun.
Pertamina beri kompensasi
PT Pertamina (Persero) akan memberikan kompensasi kepada masyarakat sekitar lokasi yang terkena dampak dari kebocoran gas di sumur Pondok Tengah, Babelan, Bekasi, Jawa Barat.
"Ada kemungkinan kebocoran itu mengotori sawah-sawah penduduk di sekitar lokasi sumur. Untuk itu, Pertamina siap memberikan kompensasi atas berbagai kerugian yang ditimbulkannya," kata Direktur Hulu Bambang Nugroho, di Jakarta, kemarin.
Kemarin, Pertamina melakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan akibat kebocoran itu, dan terus berupaya memperbaiki kebocoran dengan membersihkan tumpahan minyak yang ada di kepala sumur. "Rencananya, besok pagi sumur akan ditutup kembali," katanya.
Bambang menjelaskan bahwa gas ikutan yang keluar dari sumur minyak itu tidak beracun karena selain jumlahnya kecil, gas itu akan naik dan bercampur dengan udara bebas. Di sisi lain, gas itu juga tidak akan merusak tanaman yang ada di daerah tersebut seperti yang dikhawatirkan warga.
Sementara kebocoran gas di Sumur Pondok Tengah, yang dimiliki Pertamina, kemarin sudah mengecil dan alirannya dialihkan ke tempat lain.
Kejadian ini murni masalah teknis yang bisa terjadi dimana saja, dan tidak faktor keteledoran dari Pertamina. Dijelaskan, tidak ada korban jiwa akibat kebocoran tersebut, dan sekarang ini sudah 500 jiwa telah dievakuasi.(dew/y)
Sumber: Pelita

Warga Babelan Merasa Dibohongi Pertamina

Masyarakat Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi yang tergabung dalam Tim Peduli Masyarakat (TPM) Kedungjaya menyayangkan laporan Direktur Utama (Dirut) Pertamina, Baihaki Hakim kepada anggota DPR-RI beberapa waktu lalu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pihak Pertamina telah memberikan uang ganti rugi kepada warga karena panen gagal akibat eksplorasi pengeboran minyak di sana. ”Apa yang dilaporkan Baiaki kepada anggota DPR-RI tentang eksplorasi pengeboran minyak di Kedungjaya, tidak seperti dirasakan masyarakat sekitar. Sama sekali dengan keberadaan Petamina di sana, tidak memihak masyarakat sekitar,” kata koordinator TPM Kedungjaya, Mansyur kepada SH, pekan lalu.Menurutnya, kurang lebih tiga tahun, telah berdiri proyek eksplorasi Pertamina OEP Karang Ampel Cirebon di Desa Kedungjata Bekasi. Selama itu juga, masyarakat sekitar men-derita akibat kehadiran proyek itu.”Jika semula masyarakat mengharap akan mengubah nasib mereka dengan kehadiran pengeboran minyak itu, ternyata malah lebih menyengsarakan. Kehadiran Pertamina tidak ada sama sekali kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar. Yang ada hanya ganti rugi tanah kepada pemilik tanah,” ungkapnya. Di antara dampak yang membuat masyarakat sekitar menderita, sebagaimana dikemukakan TPM, kesuburan tanah pertanian semakin berkurang, menyebabkan hasil panen drastis menurun. Tingkat kebisingan selama 24 jam, juga membuat warga tidak tenang akibat kendaraan besar Petamina yang hilir mudik. Jalan-jalan juga rusak parah, kendati pernah diperbaiki.Belum lagi panas yang ditimbulkan akibat radiasi pembakaran. Temperatur udara mengakibatkan kemerosotan hasil panen petani, dan masih banyak dampak lainnya. Kendati Pertamina mengeruk keuntungan yang cukup besar dari hasil bumi Keungjaya itu, tetapi sama sekali tidak ada kontribusinya kepada masyarakat sekitar.Apa yang dikemukakan Dirut Petamina Baihaki Hakim kepada Nazrudin Kiemas anggota DPR RI, adalah palsu dan hanya rekayasa, demi untuk kepentingan Pertamina. Sebab, Baihaki melalui suratnya kepada anggota DPR tanggal 31 Agustus 2002, melaporkan, pihaknya telah memberikan ganti rugi kepada petani akibat kemerosotan panen sebagai dampak difungsikannya flare di lokasi.Baihaki juga melaporkan, masih berusaha melakukan pendekatan pada pemilik tanah untuk mendapatkan titik temu peyelesaian masalah sawah yang terkena radiasi panas. Bantuan pembangunan ke masyarakat Kedungjaya, kata Baihaki dalam laporannya, sudah dilakukan dengan membangun fasilitas umum dan kegiatan sosial, disamping akan memberdayakan masyarakat setempat.”Semua yang dilaporkan itu bohong belaka dan hanya isapan jempol, guna menyenyangkan hati wakil rakyat,” kata seorang warga menanggapi laporan pihak Pertamina kepada DPR-RI itu. Warga yang tergabung dalam TPM Kedungjaya minta kepada Pemerintah Kabupaten Bekai dan Pertamina, untuk lebih peduli terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat Kedungjaya yang langsung mengalami dampak eksplorasi minyak tersebut. Ganti RugiSementara itu, Kepala Humas Daerah Operasi Hulu Pertamina Cirebon, Sri Kustini yang dihubungi SH, Senin pagi ini mengatakan, pihak Pertamina sudah membayar ganti rugi kepada pemilik sawah yang berada di antara 100-150 meter di sekitar flare (nyala api).”Warga yang mengirim surat dan mengeluhkan sawahnya kena radiasi (flare) sudah kita ganti. Jadi tidak benar kalau dikatakan pihak Pertamina belum memberikan ganti rugi,” tambah Sri Kustini. (jon/sat)
Sumber: Sinar Harapan